Home > lingkungan hidup, weleh weleh > PLTN – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir….. amankah????

PLTN – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir….. amankah????


Faktor Pencemaran Lingkungan dan Gangguan Kesehatan

Pada setiap bulan Agustus, kita selalu diingatkan pada peristiwa jatuhnya bom atom (nuklir) di Hirosima dan Nagasaki. Hampir diperkirakan 100.000 orang menderita cirera. Tulisan ini dimaksudkan untuk membuka mata masyarakat luas akan kemungkinan terjadinya kecelakaan PLTN serta bahaya lingkungan dan kesehatan yang timbul ternyata cukup serius daripada yang diperkirakan sebelumnya. Terbukti bahwa secara rata-rata untuk seorang yang tinggal sampai 1 km dari sebuah reaktor nuklir, dosis radiasi yang diterimanya dari bahan-bahan yang dipakai di reaktor tersebut adalah kurang dari 10% dari dosis radiasi alam (dari batuan radioaktif alami, sinar kosmis, sinar-sinar radioaktif untuk maksud-maksud medis) .

Kalau untuk tambang-tambang batubara dikenal istilah “black lung”, di mana partikel batubara yang terhirup oleh para pekerja tambang mengendap di paru-paru dan menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan, para pekerja di tambang Uranium (bahan utama untuk bahan bakar PLTN) terutama terkena radiasi dari Carbon 14 (C-14) dan gas Radon yang terpancar dari Uranium alam. Dari data statistik didapat bahwa kedua jenis radiasi ini menelan korban jiwa kurang lebih 1 orang tiap 20 juta MWH listrik yang dihasilkan PLTN per tahun.

Prinsip Kerja PLTN

Dalam reaktor nuklir terjadi proses pemecahan inti atom atau yang lebih dikenal dengan proses fussion, yaitu bahan bakar dipecah dengan penembakan neutron. Pemecahan ini menghasilkan energi dan partikel-partikel. Energi yang dihasilkan sangat besar, yaitu sekitar 200 MeV, dan partikel dasar yaitu photon, elektron, dan neutron. Neutron yang baru terbentuk ini akan menembak atom disampingnya. Demikian seterusnya sehingga reaksi ini dinamakan reaksi berantai (chain reaction).

Tipe reaktor nuklir di dunia kebanyakan adalah tipe LWR (Light Water Reactor), tipe ini menggunakan air biasa sebagai moderator (pengontrol kecepatan neutron) sekaligus menghasilkan uap air yang kemudian digunakan untuk menggerakan turbin. Di Amerika, BWR (Boiling Water Reactor) dan PWR (Pessurized Water Reactor) adalah jenis LWR yang banyak digunakan.

Sistem Pengamanan

Agar keamanan dapat terjamin sebuah reaktor harus dilengkapi dengan sarana pengontrol reaksi berantai dan sarana pendingin serta sarana pengolahan bahan bakar. Berbeda dengan reaksi kimia biasa, reaksi nuklir terjadi secara terus menerus/berrantai. Energi yang dihasilkan ditentukan dari kecepatan terjadinya pemecahan inti atom. Dalam mengontrol terjadinya reaksi ini, neutron yang mempunyai kecepatan tinggi harus diperlambat, hal ini dapat dilakukan dengan bahan yang disebut moderator. Beberapa contoh moderator adalah H2O (light water), D2O (heavy water, graphite dan lain-lain. Selain itu ada pula yang dinamakan absorber yang berfungsi untuk menyerap neutron seperti Baron, Xenon dan senagainya. Dengan cara mengontrol kadar moderator kita dapat mengontrol reaksi nuklir.

Sarana lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengontrol panas dari reaktor. Sebuah reaktor nuklir akan bekerja normal apabila berada dalam keseimbangan panas (thermal equilibrium). Biasanya masalah ini dapat ditanggulangi oleh bentuk dan struktur reaktor itu sendiri yang memungkinkan panas dapat dialirkan dan dihilangkan secara alamiah. Perubahan beban kerja akan mempengaruhi reaksi sehingga akan mempengaruhi panas yang terjadi. Tetapi selama perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan keseimbangan panas reaktor akan tetap terjaga. Dalam desain permulaan harus diperhitungkan perubahan panas yang terjadi pada saat-saat darurat, dalam hal ini mungkin diperlukan tambahan alat pendingin.
Tabel 1. Perbandingan biaya produksi PLTN dan PLTU (sen US$/kWH)
PLTN PLTU
. O&M BAHAN
BAKAR KAPITAL TOTAL O&M BAHAN
BAKAR KAPITAL TOTAL
1986 1.25 0.75 3.34 5.34 0.44 1.85 0.99 3.27
1987 1.37 0.76 3.25 5.38 0.45 1.69 1.03 3.17
1988 1.46 0.79 3.35 5.60 0.36 1.65 1.06 3.07
1989 1.62 0.75 3.73 6.10 0.39 1.75 0.79 2.93
1990 1.55 0.72 3.70 5.97 0.39 1.77 0.91 3.04
Sumber : Energy Information Administration, US Departement of Energy.

Bagian penting lainnya adalah sungkup reaktor. Bagian luar reaktor harus dibangun lapisan yang kuat, lapisan ini berfungsi untuk menjaga reaktor dari gangguan luar dan sekaligus untuk menjaga agar radiasi dapat dikurung di dalam sungkup reaktor saja apabila terjadi kebocoran dalam reaktor.

Dalam desain seluruh sistim pengaman ini ada beberapa kriteria penting yang harus dipenuhi, misalnyae single falure criteria, dimana kegagalan satu bagian tidak boleh mengakibatkan kegagalan bagian lain, dan multi barrier concept atau sistem pengaman berlapis. Perkembangan teknologi modern yang pesat belakangan ini, terutama dalam bidang komputer adalah sangat besar artinya dalam menjamin terpenuhinya kriteria-kriteria ini. Kegagalan dapat saja terjadi, namun dengan bantuan komputer tiap kesalahan dapat dideteksi dengan cepat dan langkah-langkah yang perlu dapat diambil sedini mungkin untuk menghindari kegagalan total.

Pengalaman Buruk

Kekhawatiran masyarakat terhadap PLTN bukanlah tanpa alasan, telah terjadi beberapa kecelakaan dalam sekala kecil maupun besar. Pada tanggal 28 Maret 1979, telah terjadi kecelakaan yang relatif kecil di TMI (Three Mile Island)-AS, operator tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan prosedur yang salah sehingga mengakibatkan reaktor terlalu panas dan akhirnya meleleh. Meskipun pada kecelakaan ini tidak terdapat korban jiwa, namun mempunyai arti yang sangat penting bagi industri nuklir. Sebelum kecelakaan itu, para ahli nuklir sangat yakin betul akan keamanan sebuah reaktor nuklir. Terjadinya kecelakaan ini telah membuka mata masyarakat luas dan para ahli bahwa kemungkinan terjadinya kecelakaan ternyata lebih besar daripada yang diperkirakan.

Kecelakaan terakhir dan terbesar terjadi pada tanggal 25-26 April 1986 di Chernobil, Uni Sovyet dahulu. Kecelakaan ini telah melibatkan secara langsung 135 ribu orang, 24.403 diantaranya dinyatakan terkena radiasi yang cukup berat, dan 29 orang menderita akibat yang fatal. Kecelakaan ini bermula dari rencana untuk mengadakan percobaan untuk mengetahui kemampuan reaktor dalam keadaan darurat. Kurangnya perencanaan matang dan belum mendapat ijin dari yang berwenang serta operator yang bertanggung jawab bukanlah seorang ahli dalam bidang nuklir, mengakibatkan reaktor tidak dapat dikontrol dengan baik.

Industri nuklir adalah industri yang paling banyak mencurahkan tenaga dan pikiran untuk masalah keamanan. Dari penelitian ahli, ditemukan satu titik persamaan bahwa salah satu penyebab utama dalam hampir semua kecelakaan adalah akibat faktor manusia. Hal ini mempunyai arti penting karena secara teori sebetulnya kecelakaan ini tidak semestinya terjasi. Dengan manajemen yang baik dan staf yang kompeten. Faktor ini dapat ditekan seminimal mungkin.

Terjadinya kecelakaan telah membawa pengaruh yang besar terutama mencakup tiga kategori yaitu: perubahan datam perusahaan (institusi), peralatan (equipment), dan cara kerja (operasional). Termasuk dalam kategori yang ketiga ini adalah faktor manusia, operator training, dan kesiap-siagaan dalam keadaan darurat (emergency preparedness).

Di samping faktor manusia, ditemukan pula bahwa terdapat kekurangan-kekurangan dalam desain yang dalam operasi normal tidak terlihat secara nyata, tapi dalam keadaan darurat menyebabkan situasi menjadi sukar diatasi. Setelah menyadari hal ini industri nuklir terus meningkatkan kesempurnaan desain. Selain itu dibentuk badan yang khusus bertugas mengontrol keamanan reaktor. Secara luas kecelakaan ini telah mengubah seluruh struktur, manajemen, dan operasi dari industri nuklir.

Sebagai contoh adalah Commonwealth Edison Company – perusahaan listrik ketiga yang terbesar di Amerika Serikat – yang 41% dari produksi listriknya dihasilkan dari reaktor nuklir telah memisahkan bagian yang bertanggung-jawab akan reaktor dengan bagian dari perusahaan lainnya. Dengan tindakan ini diharapkan bahwa perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih cepat dan efektif. Selain itu, dalam ruang pengontrol telah ditambah dengan teknologi komputer yang dilengkapi dengan layar pengontrol yang lebih canggih. Dengan demikian setiap keadaan yang tidak normal dapat diketahui dan dianalisa dengan cepat dan cermat agar dapat diambil tindakan yang diperlukan dengan segera.

Perubahan yang sangat penting adalah dalam program latihan (training program). Untuk menjadi operator dari sebuah reaktor nuklir kini dibutuhkan pendidikan khusus. Dalam program yang memakan waktu 3-10 tahun ini, seorang operator dilatih secara intensif di dalam maupun di luar kelas. Dengan peningkatan mutu latihan, diharapkan seorang operator dapat mengambil keputusan yang bijaksana dalam segala macam situasi darurat.

berikut ini adalah surat penolakan rakyat indonesia terhadap PLTN yang menurut pemerintah indonesia aman!

Penolakan Rencana Pembangunan PLTN di Indonesia (Muria dan Madura)

Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan telah menandatangani kontrak untuk pembangunan PLTN di Indonesia. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerjasama dengan Korean Hydro Nuclear Power Co. LTD, (KHNP) telah menandatangani kesepakatan kerjasama terkait rencana pembangunan PLTN Muria. Sebelumnya sejak tahun 80-an pihak NewJEC, sebuah anak perusahaan dari Mitsubitshi Heavy Industries, di Osaka, Jepang, telah menandatangani kontrak untuk membangun dan melakukan studi kelayakan di Jepara. Perkembangan selanjutnya pihak KHNP yang sebetulnya adalah anak perusahaan dari KEPCO Korea mendapatkan kontrak untuk melakukan feasibility study (studi kelayakan) dan pembangunan PLTN di Jepara. PLTN Muria menurut rencana akan dibangun mulai tahun 2011 dengan kapasitas 6000 MW. PLTN ini menggunakan teknologi yang saat ini banyak dipakai di dunia yaitu PWR (Pressurized Water Reactor) yang sementara ini dinilai aman oleh beberapa pihak. Studi kelayakan yang dilakukan oleh NewJEC maupun nantinya oleh KHNP, tidak memperhitungkan posisi Jepara yang memiliki gunung Muria yang saat ini tidak aktif. Bencana akan lebih besar apabila pada saat PLTN beroperasi, gunung Muria kembali aktif. Resiko semacam ini selalu diabaikan walaupun sejarah gunung berapi menunjukkan bahwa mereka bisa aktif lagi. Dari pemantauan di lapangan, studi kelayakan yang dilakukan oleh pihak NewJEC sangatlah sedaerhana dan memungkinkan adanya kesalahan penghitungan yang bisa mengakibatkan bencana di tanah air.

Daerah calon tapak proyek pembangunan PLTN Muria terletak di area perkebunan kakao di Ujung Lemah Abang, Ujung Watu dan Ujung Genggrengan di Kecamatan Bangsri dan Keling kabupaten Jepara Jawa Tengah. Lokasi calon tapak proyek terletak di tanah milik negara. Hal ini sengaja dilakukan untuk menghindari penolakan dari masyarakat sekitar terhadap proses ganti rugi yang selama ini selalu merugikan masyarakat. Beberapa waktu lalu pihak NewJEC juga melakukan feasibility study dan kelihatannya masih banyak kekurangan masyarakat tidak banyak diperdebatkan dalam hasil feasibility study tersebut. Sementara ini, BATAN sedang mengusahakan untuk membuat regulasi yang mengacu pada UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaga-Nukliran.

Persoalan timbul karena dalam UU Ketenaga-Nukliran disebutkan bahwa segala keputusan tentang ketenaganukliran ada di tangan Presiden. Sementara saat ini peran pemda sangat dominan dalam pengambilan keputusan. Konflik kepentingan dan rancunya UU yang dibuat sebelum era otonomi daerah akan menjadi besar dalam beberapa tahun ke depan. Sementara itu, titik lemah dari otonomi daerah untuk proyek PLTN yang hanya mengacu pada keputusan daerah akan mengakibatkan bencana bawaan kepada daerah sekitar termasuk wilayah Indonesia. Apabila terjadi kecelakaan PLTN di Indonesia, maka radiasinya akan sampai ke negara-negara tetangga sehingga PLTN bukan hanya isu lokal tapi juga nasional bahkan internasional.

Pada tanggal 10 Oktober 2001 BATAN bersama KAERI (Korean Atomic Energy Research Institute) telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebesar 200 juta dollar untuk studi kelayakan (feasibility study) berkaitan dengan rencana pembangunan PLTN Madura tahun 2008[1] yang diharapkan beroperasi pada tahun 2015. PLTN yang akan dikembangkan di Madura adalah PLTN SMART (System Modular Advanced Reactor) 2 unit @ 100 MW. PLTN ini menggunakan teknologi desalinasi (proses penyulingan air laut menjadi air tawar) yang akan menghasilkan listrik 200 MW, air bersih 4000 m3/hari dan air laut tua yang akan dengan mudah diolah menjadi garam. PLTN SMART yang akan dikembangkan di Madura hingga saat ini belum mendapatkan sertifikat jaminan keamanan internasional dari IAEA (International Atomic Energy Agency). Korea Selatan sedang mengembangkan PLTN kecil ini yang diharapkan selesai tahun 2005 dan segera mendapatkan sertifikat keamanan internasional sehingga pada tahun 2008 dapat dikembangkan di Madura.

Sebagaimana telah disebutkan, PLTN SMART yang akan dibangun di Madura menggunakan teknologi desalinasi. Proses ini akan menghasilkan air bersih dan garam yang berasal dari penyulingan air laut. Dengan bahan baku air laut ini, sumber air di Madura tidak akan terganggu. Air laut itu juga akan digunakan untuk mendinginkan reaktor yang di dalamnya bersuhu 5000 derajad celcius. Setelah itu air akan dibuang ke laut[2]. Bencana besar akan menimpa konsumen pemakai air tawar yang dihasilkan dari kombinasi PLTN dan proses Desalinasi. Radiasi nuklir akan dengan mudah menyebar dalam air tawar dari proses tersebut dan konsumen akan tercemar oleh radiasi nuklir. Banyak pihak yang menyayangkan proses ini Karena akan membahayakan lingkungan.

KHNP yang akan membangun PLTN itu bukanlah perusahaan yang tanpa cacat dalam pengoperasian PLTN di negaranya sendiri. Banyak kasus kebocoran dan kegagalan yang terjadi dari 16 reaktor PLTN yang dimiliki oleh KHNP. Di Korea sendiri mereka masih memiliki dua buah PLTN yang dalam proses pembangunan. Berita terakhir yang kami terima dari kawan-kawan di KFEM sebuah organisasi anti nuklir yang kuat di Korea Selatan menyebutkan kutipan di bawah ini:

I heard about the plan of KHNP (Korean Hydro Nuclear Power) about Indonesia for changing sea water into fresh water recent. It’s so terrible plan!!!!

The reactors must be Korean style. They are so troublesome here.

Before official operation, the 7 parts (thermal sleeves, safety devices) of 8 were broken away and the inside of reactor was damaged in two reactors (YoungGwang 5th, 6th) that are all of Korean style reactors in the end of 2003. And KHNP didn’t know for 1 year the situation and don’t know the reason still now. And the radioactive substances were leakage for 5 days from first system to 2nd system and contaminated buildings where persons are working in YoungGwang 5th, 22nd Dec. 2003. But they didn’t know that and the substances got away to sea with 3,500 ton waste water. They don’t know the reason still now too. Korean style reactor is very danger. So, Chinese government doesn’t in mind korean style reactor in their new NPP plan.

(Di PLTN Young Gwang 5 dan 6 pada akhir tahun 2003 terjadi kecelakaan justru sebelum dioperasikan. 7 bagian dari 8 bagian batang thermal[3] dan peralatan keselamatan rusak di dalam reaktor. Radioaktif bocor selama 5 hari dari sistem pertama ke sistem yang kedua dan mengontaminasi bagunan-bangunan di PLTN Young Gwang 5 pada tanggal 22 Desember 2003. Pihak pengelola PLTN tidak mengetahui adanya kebocoran dan bahan radio aktif tersebut bercampur dengan 3.500 ton limbah air (yang sebelumnya masuk ke reaktor sebagai pendingin) dan masuk ke perairan pantai di Korea. PLTN model Korea sangat berbahaya sehingga pemerintah China saja tidak menginginkan PLTN model Korea dibangun di China).

Menyoal kembali rencana Pembangunan PLTN Muria dan Madura, kita sepakati beberapa catatan dalam press conference ini, yaitu:

Tidak ada transparansi informasi dalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria yang meliputi 3 Kabupaten di Wilayah Gunung Muria maupun PLTN Madura di kecamatan Sokobanah dan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura. Sosialisasi yang dilakukan oleh BATAN melalui institusi Perguruan Tinggi, seperti Lembaga Penelitian Sosial Budaya Universitas Diponegoro dalam rencana pembangunan PLTN Muria dan Sosialisasi PLTN Madura oleh Lembaga Penelitian Masyarakat (LPM) Universitas Brawijaya bekerjasama dengan 4 Perguruan Tinggi di Madura (Universitas Trunojoyo di Bangkalan, STKIP PGRI di Sampang, Universitas Madura di Pamekasan dan Universitas Wiraraja di Sumenep) lebih banyak menyampaikan manfaat nuklir dan menutupi bahaya PLTN.

Keterlibatan masyarakat dalam proses sosialisasi hanya menjadi alat legitimasi. Ini terjadi di 3 kabupaten wilayah Muria Jawa Tengah dan Pulau Madura di Jawa Timur yang mengindikasikan bahwa proyek ini direncanakan secara sembarangan.

Tidak adanya jaminan 100% atas keamanan reaktor yang hanya berumur 30-50 tahun. Dengan tingkat bahaya pembuangan limbah radio aktif ribuan tahun oleh pemerintah sekarang atau rezim manapun ketika persoalan bahaya, siapakah yang berani menjamin keamanan PLTN?

Sehingga menurut kami, ada beberapa hal yang harus dilakukan:

Menolak rencana pembangunan PLTN di Indonesia.

Memprioritaskan penelitian dan penggunaan energi alternatif yang aman, bersih dan ramah lingkungan. Ini mengingat ketersediaan sumber daya alam di Indonesia masih cukup besar dan masih dapat dimanfaatkan lagi dengan asas keseimbangan lingkungan dan keadilan bagi masyarakat.

Menggunakan energi listrik secara efisien sehingga mampu mendorong distribusi energi yang adil bagi masyarakat miskin. Langkah ini merupakan prioritas yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini dan bukan memberi subsidii untuk masyarakat yang kaya (sektor industri).

Demikian pernyataan kami, terima kasih !!!

Bagaimana menurut saya?? saya melihat kondisi di mana banyak negara memamfaatkan teknologi nuklir untuk energi….. namun saya dapat melihat bahwa yang namanya limbah nuklir ternyata tidak dapat di daur, dan hanya bisa mengendap kandungan radiasinya minimal beberapa ratus tahun! jadi apanya yang aman????

memang benar menurut kenyataan yang sekarang kebocoran akibat limbah nuklir tersebut tidak pernah terjadi…. dan bagaimana kalau terjadi? saya termasuk orang yang menolak teknologi ini. Namun pada kenyataannya bangsa kita krisis Energi, lantas bagaimana? apa yang kita lakukan?

Mulai Berhemat dari sekarang!!!

Negara kita adalah negara yang masih mengandalkan sumber daya alama, bukan teknologi, sebuah kesalahan kecil akan berakibat fatal baik terhadap lingkungan kita, dunia ini, generasi dan anak-anak kita serta menghancurkan masa depan semua manusia

….dan bodohnya pemerintah kita (kalau tidak mau saya sebut sebagai oknum) seorang mentri mengatakan bahwa nuklir lebih aman dari pada rokok.

“Menristek: PLTN Lebih Aman Daripada Merokok“

ini yang saya rasakan aneh…. kebiasaan manusia dari jaman dahulu kala mengenai merokok memang merusak kesehatan tapi tidak merusak lingkungan hidup! jadi anda pilih mana? apakah anda lebih suka generasi anak-anak anda tercemar radiasi akibat nuklir atau anda meninggal karena rokok????

Jadi saya kembalikan kepada anda-anda sekalian untuk menjawab pertanyaan saya, apakah PLTN aman? jika ditanyakan kepada saya maka saya akan menjawab TIDAK, TIDAK AMAN!

Penulis,

disaring dari beberapa Sumber Acuan:
* Andang Nugroho dan Hindro Mujianto – Permias
* Ir. Nanan Tribuana, Subdirektorat Pengawasan Lingkungan Ketenagalistrikan Ditjen LPE
* Wahli – Wahana Lingkungan
* Wikipedia Indonesia
* Detik.com mengenai PLTN yang lebih aman dari pada merokok

  1. November 12, 2008 at 2:33 pm

    kami dari ikatan mahasiswa progresif sampang (IMPRES) mendukung AM2PN dan WALHI atas pennolakan PLTN di wilayah indonesia pada umumnya dan madura pada khususnya. karena PLTN bisa mencemari lingkungan sehingga manusia hanya bisa mewarisi wabah penyakit pada generasi kita. ingat ! kita sebagai warga madura harus menolak pembangunan PLTN tersebut.
    kami siap membantu

    IMPRES

  2. john
    November 26, 2008 at 9:37 am

    saya mahasiswa UKSW, sangatlah setuju dengan penolakan yang anda lakukan. dimana, dalam melakukan sutu kegiatan kita harus melihat dampak yang akan terjadi di masyarakat luas. setahu saya sihc, nuklir ini sangatlah berbahaya dalam lingkungan, kesehatan dan secaea langsung jika terjadi kebocoran, akan memakan korban yang cukup banyak.

  3. November 28, 2008 at 6:25 pm

    Seru juga membaca tulisan Mas Ronny tentang penggunaan PLTN. Izinkan sebagai saya urun pendapat mengenai masalah ini :

    1. Tidak ada kaitan antara pengembangan PLTN di Indonesia dengan pembuatan senjata nuklir. FYI, pembuatan bom atom memerlukan teknologi pengayaan uranium hingga sampai 99%, sedangkan untuk teknologi PLTN jenis PWR hanya memerlukan enrichment 3-5 %. Ditambah lagi, dengan menandatangani Nuclear Proliferation Treaty (NPT), Indonesia jelas tidak akan memiliki program tersebut. Sehingga mengasosiasikan PLTN dan Senjata Nuklir jelas tidak tepat.

    2. Saya mohon diberitahu dari mana sumber ilmiahnya sehingga mas mengatakan : “Terbukti bahwa secara rata-rata untuk seorang yang tinggal sampai 1 km dari sebuah reaktor nuklir, dosis radiasi yang diterimanya dari bahan-bahan yang dipakai di reaktor tersebut adalah kurang dari 10% dari dosis radiasi alam (dari batuan radioaktif alami, sinar kosmis, sinar-sinar radioaktif untuk maksud-maksud medis)”. Mohon dijelaskan apa maksud kurang 10% dari dosis radiasi alam? Berarti tinggal didekat PLTN lebih aman?

    3. Saya tertawa membaca pernyataan penolakan ini : ” I heard about the plan of KHNP (Korean Hydro Nuclear Power) about Indonesia for changing sea water into fresh water recent. It’s so terrible plan!!!! The reactors must be Korean style. They are so troublesome here. Before official operation, the 7 parts (thermal sleeves, safety devices) of 8 were broken away and the inside of reactor was damaged in two reactors (YoungGwang 5th, 6th) that are all of Korean style reactors in the end of 2003″.

    Terlihat sekali mereka tidak nyambung. Teknologi yang akan rencananya akan digunakan di Madura untuk desalinasi adalah jenis small reactor bernama SMART. Di Korea sendiri, teknologi ini belum dibangun. Sehingga mengatakan “They are so troublesome here” terlihat banget berbohongnya. Dan setahu saya, saya tanyakan langsung kepada kolega saya di sini (Seoul), tidak ada kejadian seperti yang diberitakan oleh KMEF tersebut.

    Penggunaan SMART tidak dapat digunakan karena pemerintah kita mempunyai peraturan pemerintah No 43 tahun 2006 tentang Peizinan Reaktor Nuklir yang menyatakan bahwa reaktor nuklir yang digunakan harus sudah teruji teknologinya (proven-technology) selama minimal 3 tahun dengan capacity factor rata-rata 75%.

    Setelah kandas di Indonesia karena terbentur PP diatas plus highly public resistance di Madura island, SMART mendapatkan sambutan yang baik dari Pemerintah Kazakhstan, karena mereka butuh air bersih dan juga listrik. Karakteristik kelistrikan di Kazakhstan sangat mendukung penggunaan small reactors. Project di Kazakhstan ini adalah sebagai pilot project nya SMART, sehingga apabila ini berhasil, developer SMART bisa lebih confident menawarkan (atau bahkan diminta) oleh negara2 yang tertarik akan teknologi small reactors. Begitu yang saya tahu dari project tentang Export of Korean Nuclear Technology ke Kazakhstan dimana saya terlibat didalamnya setahun belakangan ini.

    4. Saya sepakat dengan pernyataan Pak Kusmayanto Kadiman, merokok itu lebih berbahaya dari PLTN nuklir dilihat dari berapa banyak korban yang jatuh akibat merokok dibandingkan kecelakaan akibat PLTN. Untuk kasus Chernobyl silakan mas rujuk ke sumber-sumber yang berkompeten, misalnya IAEA, WHO dan badan internasional lainnya.

    5. Mengenai limbah nuklir, penanganannya ditreatment dengan 2 metode, dry storage dan wet storage. 90% limbah nuklir dunia ditangani dengan sistem wet storage. Limbah nuklir disimpan sementara di lokasi PLTN dengan pengawasan khusus. FYI, asupan bahan bakar nuklir tidak setiap hari seperti halnya batu bara dan gas. PLTN di refuel setelah 18-24 bulan dari asupan bahan bakar sebelumnya. Inilah yang membuat PLTN sangat irit bahan bakar (sebagai ilustrasi, 1 gram uranium = 3 ton batubara). Sebagai contoh Korea yang telah mengoperasikan nuklirnya selama 30 tahun dengan 20 PLTNnya, baru saat ini akan menentukan lokasi penyimpanan limbah nuklir permanennya. Terlebih, saat ini riset penggunaan fast reactor yang bisa menggunakan limbah nuklir sebagai bahanbakar kembali sedang giat-giatnya. Sehingga apabila dikemudian hari teknologi ini bisa digunakan, limbah nuklir yang disimpan sementara itu akan menjadi sebuah barang yang sangat bernilai.

    6. Mengenai radiasi, Kami pernah mengadakan field trip ke PLTN Korea dimana ada 40 mahasiswa S2 dan S3 Indonesia yang berpartisipasi. Kami bisa melihat bagaimana kondisi dan situasi PLTN secara langsung. Para pekerja dan keluarganya umumnya tinggal di sekitar lokasi PLTN. Lokasinya sejuk dan asri dengan pohon-pohon yang hijau, tidak khawatir sama sekali akan pengaruh radiasi yang banyak sekali diselewengkan oleh orang-orang yang tidak tahu akan radiasi. Radiasi memang seperti mata pisau, bisa bermanfaat, bisa juga tidak, tergantung pemanfaatannya. PLTN adalah pemanfaatan radiasi untuk tujuan baik.

    Itu saja sumbang pemikiran saya,

    Sukses ya mas Ronny

    Salam,

    Chairul Hudaya
    http://www.nuklir.info

  4. November 28, 2008 at 6:46 pm

    Komen saya buat Mas IMPRES,

    Mendukung atau tidak, itu perlu pengetahuan yang memadai, bukan asal ikut-ikutan. Dari mana tahu PLTN mencemari lingkungan? Kalau mau menolak pembangkit listrik yang mencemari lingkungan, saya sarankan untuk mengarahkan sasarannya ke PLTD dan PLTU karena mereka sangat berkontribusi dalam menghasilkan greenhouse gas (C02).

    Kehadiran PLTN hanya sebagai “pembantu” menghadapi krisis enegi yang sedang melanda Indonesia. Our oil and coal reserves and resources are continuously declining, sementara permintaan energi kita semakin meningkat. Electrification ratio kita masih rendah. PLTN direncanakan hanya menyumbang sebanyak 2 % dari total energi listrik pada tahun 2025. Kalau tidak dipersiapkan sekarang ini, maka perencanaan yang sudah dikukuhkan dalam PP No 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional akan berantakan. Akibatnya rakyat juga yang akan rugi karena energi tidak terpenuhi. Begitupula dengan renewable energy seperti geothermal, PLTS, PLTA, biomassa dll. pengembangannya harus terus digalakkan. Jadi semuanya bersama-sama bukan saling lawan melawan antara energi satu dengan lainnya. Itulah yang disebut sebagai diversifikasi energi. Tujuannya yaitu untuk menjamin (secure) pasokan energi dimasa yang akan datang.

    Begitu mas,

    Salam

    Chairul Hudaya
    http://www.nuklir.info

  5. December 2, 2008 at 3:51 am

    sebelumnya terima kasih kepada mas Chairul Hudaya untuk memberikan tanggapan dalam penulisan saya ini

    1. Mengenai Senjata Nuke dan PLTN, jujur ya… saya ga ngerti soal senjata nuke yang digunakan oleh pemerintah RI (itupun bilamana ada,) karena setahu saya, Indonesia tidak memiliki SDM yang mampu mengelola senjata Nuke tersebut. dan saya percaya 100% bahwa RI tidak akan pernah mencoba untuk menciptakan Nuke,
    Back to PLTN, dari awal (maaf ya) saya tidak mendukung PLTN, kenapa? kembali saya tanyakan kepada semua pembaca… mengapa harus PLTN? apakah dengan melihat dari murahnya cost menjadi pertimbangan dari resiko yang ditimbulkan terhadap alam negara kita?
    ini masih prediksi saya, adalah beberapa alasan mengapa di Indonesia di tentang oleh banyak orang, (khususnya negara2 yang maju). bila mana terjadi satu kesalahan (satu saja, tidak perlu banyak-banyak) dalam hal memanage pabrik PLTN ini, resikonya adalah kerusakan alam yang permanen di mana butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan kondisi seperti semula
    bila mana sampai terjadi kesalahan tersebut, yang rugi adalah bumi kita, bukan hanya negara kepulauan yang bernama Republik Indonesia.
    letak bangsa kita yang strategis terletak di jalur katulistiwa yang memiliki kandungan ozon yang banyak, bilaman sampai terjadi kerusakan ekosistem makan menimbulkan ketidakseimbangan di bumi, dan akibatnya akan muncul suatu bahaya global,

    2.
    “Terbukti bahwa secara rata-rata untuk seorang yang tinggal sampai 1 km dari sebuah reaktor nuklir, dosis radiasi yang diterimanya dari bahan-bahan yang dipakai di reaktor tersebut adalah kurang dari 10% dari dosis radiasi alam (dari batuan radioaktif alami, sinar kosmis, sinar-sinar radioaktif untuk maksud-maksud medis)”.

    mas, mas… ini sudah bukan merupakan rahasia lagi, bahwa yang merupakan radiasi alami (yang tercipta daripada matahari dan sebagainya) memberikan efek yang negatif yang lebih besar daripada radiasi buatan, maksdunya, secara timednya, radiasi alami tercipta secara jangka panjang dan lama untuk di pulihkan,. sedangkan radiasi kimia (yang tentunya kita berbicara radiasi nuklir) bisa jadi akan mematikan satu-tiga generasi kehidupan.

    sumber saya ambil dari : http://www.walhi.or.id/kampanye/energi/pltn/tolk_nuklir_040304/
    mengenai dari mana saya mendapatkan bahan ini, m,as bisa mendapatkannya dari sumber acuan saya:
    * Andang Nugroho dan Hindro Mujianto – Permias
    * Ir. Nanan Tribuana, Subdirektorat Pengawasan Lingkungan Ketenagalistrikan Ditjen LPE
    * Wahli – Wahana Lingkungan
    * Wikipedia Indonesia
    * Detik.com mengenai PLTN yang lebih aman dari pada merokok

    3.
    Karakteristik kelistrikan di Kazakhstan sangat mendukung penggunaan small reactors. Project di Kazakhstan ini adalah sebagai pilot project nya SMART, sehingga apabila ini berhasil, developer SMART bisa lebih confident menawarkan (atau bahkan diminta) oleh negara2 yang tertarik akan teknologi small reactors.
    coba anda review sendiri komentar anda di quote atas, dalam komentar anda, anda masih mengatakan kata “Apabila ini berhasil”. maaf, mungkin saya tidak memiliki pendidikan yang cukup mengenai teknologi nuklir. tapi setahu saya dalam teknologipun ada kadang kalanya muncul kemungkinan faktor kegagalan 1% dari total kesuksesan,. selain itu anda sendiri mengatakan apabila ini berhasil. apakah anda masih belum optimis bahwa hal tersebut belum tentu berhasil?

    4. Rokok lebih berbahaya daripada NUke?? maaf mas, ini tidak sesuai dengan pendapat saya. bahaya rokok tercipta karena kita merokok. sedangkan bahaya dari Nuklir tercipta karena adanya SDM atau teknologi yang mengalami suatu kesalahan. dari segi akibatnya juga lumayan. dari rokok, yang terkena dampaknya adalah perokok pasif, perokok aktif, dan keluarga dan teman2 perokok. sedangkan bahaya dari Nuklir adalah satu sampai 3 generasi kehidupan punah!
    adalah kesalahan perokok yang merokok dampaknya keluarga perokok, sedangkan bahaya nuklir adalah kesalahan seseorang atau sistem dampaknya adalah semua lingkungan dan ekosistem

    terimakasih mas, bukan berarti penulisan ini menolak program pemerintah, namun saya lebih menekankan kepada agar pemerintah lebih berhati-hati dalam menentukan sikap dan kebijakan di mana keputusan yang diambil sangat beresiko tinggi

  6. December 6, 2008 at 6:45 am

    Mas Ronny,

    Tanggapan saya, saya posting di personal website saya :
    http://nuklir.info/OK/content/view/85/45/

    Terima kasih Mas Ronny senang sekali bisa berdiskusi dengan mas. Saya coba menanggapi pertanyaan/pernyataan mas satu-persatu ya.

    >>>Mengenai Senjata Nuke dan PLTN, jujur ya… saya ga ngerti soal senjata nuke yang digunakan oleh pemerintah RI (itupun bilamana ada,) karena setahu saya, Indonesia tidak memiliki SDM yang mampu mengelola senjata Nuke tersebut. dan saya percaya 100% bahwa RI tidak akan pernah mencoba untuk menciptakan Nuke

    Paragraf pertama tulisan mas mengetengahkan masalah bom atom Hiroshima & Nagasaki. Jadi saya hanya memberikan info saja dalam kaitan dengan rencana Indonesia menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai. Alasannya bukan karena tidak punya SDM mas, bisa saja kalau mau, tetapi sifat kita yang cinta damai. Makanya kita pada tahun 68 menandatangani perjanjian NPT. Silakan baca ini : NPT

    >>>Back to PLTN, dari awal (maaf ya) saya tidak mendukung PLTN, kenapa? kembali saya tanyakan kepada semua pembaca… mengapa harus PLTN? apakah dengan melihat dari murahnya cost menjadi pertimbangan dari resiko yang ditimbulkan terhadap alam negara kita?

    Jika suatu negara hendak memanfaatkan PLTN, pertimbangannya banyak sekali mas, tidak hanya melihat pada sisi ekonomis saja, tetapi harus dikaji bidang lainnya seperti sosial politik, environment, kebutuhan supply and demand energi jangka panjang, kesiapan SDM, kesiapan peraturan/perundangan terkait masalah nuklir dll. Makanya karena yang diutamakan adalah keselamatan manusia, setiap negara pasti ada badan pelaksana dan pengawas tersendiri yang mengurusi masalah nuklir. Nah langkah-langkah apa saja yang harus dipersiapkan dalam membangun sebuah PLTN mas bisa baca panduan IAEA di blog saya : Alur Pembangunan PLTN di Indonesia
    Seperti diketahui, study akan PLTN ini sudah dilakukan mulai dari tahun 1970an, suatu waktu yang sebenarnya lebih dari cukup untuk mempersiapkan pembangunan PLTN. Persiapannya sudah mencakup study-study bidang yang saya sebutkan diatas. Mari kita tinjau satu bidang saja dulu, sisi supply-demand. Salah satu tugas negara seperti yang tertuang dalam undang-undang energi No 30 tahun 2007 adalah negara wajib menjamin (secure) ketersediaan energi dimasa mendatang. Mas, mau tidak-mau, untuk memenuhi kebutuhan base-load listrik kita, selain PLTU dan PLTG, kita hanya punya 2 pilihan lagi, PLTN dan PLTPB. PLTS dan PLT angin tidak bisa dihandalkan untuk mensuplay base-load, hanya cocok untuk peak-load saja, karena sifatnya yang tidak kontinue. PLTA skala besar sudah tidak dapat dibanguan lagi karena sudah jenuh, artinya sumber-sumber tenaga air utama sudah dimanfaatkan (we are talking about energy supply and demand in Java-Madura-Bali interconnected system). Untuk PLTPB saat ini pemerintah sedang berusaha giat-giatnya mempermudah pembangunannya dengan dikeluarkannya berbagai regulasi untuk menarik investasi. Targetnya tahun 2025 bisa menyumbang 5 %, sebuah target yang sangat optimistik, padahal sekarang saja pemanfaatannya baru sebanyak 807 MW yang lokasinya tersebar diberbagai daerah. Artinya perlu banyak explorasi, karena kapasitas pembangkitannya biasanya 20-300-an MW. Oleh karena itulah, sudah saatnya PLTN masuk ke sistem (Studi CADES 2002) membantu energi lainnya dalam upaya mensecure kebutuhan energi dimasa yang akan datang. Aspek lainnya nanti dibahasnya ya.

    >>>Ini masih prediksi saya, adalah beberapa alasan mengapa di Indonesia di tentang oleh banyak orang, (khususnya negara2 yang maju). bila mana terjadi satu kesalahan (satu saja, tidak perlu banyak-banyak) dalam hal memanage pabrik PLTN ini, resikonya adalah kerusakan alam yang permanen di mana butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan kondisi seperti semula bila mana sampai terjadi kesalahan tersebut, yang rugi adalah bumi kita, bukan hanya negara kepulauan yang bernama Republik Indonesia.letak bangsa kita yang strategis terletak di jalur katulistiwa yang memiliki kandungan ozon yang banyak, bilaman sampai terjadi kerusakan ekosistem makan menimbulkan ketidakseimbangan di bumi, dan akibatnya akan muncul suatu bahaya global,

    >>>mas, mas… ini sudah bukan merupakan rahasia lagi, bahwa yang merupakan radiasi alami (yang tercipta daripada matahari dan sebagainya) memberikan efek yang negatif yang lebih besar daripada radiasi buatan, maksdunya, secara timednya, radiasi alami tercipta secara jangka panjang dan lama untuk di pulihkan,. sedangkan radiasi kimia (yang tentunya kita berbicara radiasi nuklir) bisa jadi akan mematikan satu-tiga generasi kehidupan.

    Radiasi itu sebenarnya bisa berguna bisa juga bermasalah, merugikan. Tergantung bagaimana orang dibelakangnya (men behind the gun). Radiasi dari sinar sinar radioaktif nuklir untuk aplikasi kedokteran dan agriculture tentu membawa kebaikan dan kesejahteraan manusia. Tetapi bila digunakan untuk bom atom, maka seperti yang mas katakan, bisa memusnahkan manusia. Untuk aplikasi PLTN juga begitu kah? Well, referencenya pasti ke Chernobyl ya. Memang gara-gara accident itulah industri nuklir didunia dirundung image keburukan. Silakan mas baca dulu disini tulisan ahli fisika astronomi tentang apa yang sebenarnya terjadi disana: Fakta soal Chernobyl

    Sejauh ini, jepang yang pernah di bom nuklir dan memiliki kekuatan dan keseringan gempa yang sama (atau lebih) dengan Indonesia mengoperasikan 55 buah PLTN nya dengan selamat. Terakhir tahun 2007 ketika gempa dahsyat melanda PLTN Kashiwazaki Kariwa, sistem safety PLTN secara otomatis dapat menshutdown reaktor sehingga reaksi fisi dapat berhenti dengan sempurna. Itu membuktikan teknologi PLTN sudah mampu menjawab tantangan kemungkinan terjadinya accident. Rusia, bekas negara UniSoviet dimana Chernobyl berada (tepatnya Ukraine) saat ini mengoperasikan 31 reaktor dan akan menambah 11 lagi yang baru. Pertanyaannya : kok ga kapok ya? atau ga trauma kecelakaan chernobyl akan terjadi lagi? Sebenarnya penjelasannya harus bermula dari reactor technology, apa yang terjadi disana, bagaimana komponen safety PLTN bisa mencegah terjadinya radiasi keluar dari reaktor dan containment, yang akhirnya bisa menyimpulkan bahwa PLTN safe. Kalau mas tertarik, insyaallah saya akan jelaskan kemudian. Untuk sementara coba lihat dulu animasi dari sistem safety sebuah PLTN disini : Safety systems ESBWR

    >>>“Karakteristik kelistrikan di Kazakhstan sangat mendukung penggunaan small reactors. Project di Kazakhstan ini adalah sebagai pilot project nya SMART, sehingga apabila ini berhasil, developer SMART bisa lebih confident menawarkan (atau bahkan diminta) oleh negara2 yang tertarik akan teknologi small reactors”.

    >>>coba anda review sendiri komentar anda di quote atas, dalam komentar anda, anda masih mengatakan kata “Apabila ini berhasil”. maaf, mungkin saya tidak memiliki pendidikan yang cukup mengenai teknologi nuklir. tapi setahu saya dalam teknologipun ada kadang kalanya muncul kemungkinan faktor kegagalan 1% dari total kesuksesan,. selain itu anda sendiri mengatakan apabila ini berhasil. apakah anda masih belum optimis bahwa hal tersebut belum tentu berhasil?

    Untuk teknologi SMART (small reactor, 300 MW) yang akan di bangun di Kazakhstan, iya itu benar baru rencana mas, faktor keberhasilannya perlu dipertanyakan. Sementara PLTN yang rencananya akan dipakai oleh kita adalah skala besar, 1 unit diperkirakan 1000 MW dan teknologinya sudah banyak yang proven, dioperasikan sudah puluhan tahun dengan selamat. Tinggal kita pilih saja. Untuk SMART ya nanti dulu, kalau mau dioperasikan di Indonesia, tunggu dulu hingga teknologi nya benar-benar proven. Kita kan tidak mau coba-coba. Namun, pemerintah Kazahstan mungkin mempunyai pemikiran yang berbeda dengan kita, tentunya mereka sudah menganalisanya dalam-dalam.

    >>>Rokok lebih berbahaya daripada NUke?? maaf mas, ini tidak sesuai dengan pendapat saya. bahaya rokok tercipta karena kita merokok. sedangkan bahaya dari Nuklir tercipta karena adanya SDM atau teknologi yang mengalami suatu kesalahan. dari segi akibatnya juga lumayan. dari rokok, yang terkena dampaknya adalah perokok pasif, perokok aktif, dan keluarga dan teman2 perokok. sedangkan bahaya dari Nuklir adalah satu sampai 3 generasi kehidupan punah! adalah kesalahan perokok yang merokok dampaknya keluarga perokok, sedangkan bahaya nuklir adalah kesalahan seseorang atau sistem dampaknya adalah semua lingkungan dan ekosistem

    Tentang merokok dan bahaya nuklir memang tidak ada kaitan atau jawaban pasti, tergantung dari sudut pandangnya. Misalnya mau dihitung dari jumlah korban akibat Rokok dan kecelakaan nuklir? Atau dampaknya seperti yang mas katakan? Jawabannya pasti beragam. Dan hak mas untuk berbeda pendapat dengan saya Smile. Saya berani mengatakan PLTN aman karena saya tahu apa yang terjadi didalamnya, bagaimana probability risk accidentnya, penanggulangannya dan tetek bengeknya.

    >>>terimakasih mas, bukan berarti penulisan ini menolak program pemerintah, namun saya lebih menekankan kepada agar pemerintah lebih berhati-hati dalam menentukan sikap dan kebijakan di mana keputusan yang diambil sangat beresiko tinggi

    Begitu mas, mohon maaf kalau uraian saya tidak menjelaskan pertanyaan mas. Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengubah pandangan mas untuk Pro PLTN, hanya ingin sharing/diskusi secara ilmiah saja.

  7. blacklist
    December 9, 2008 at 1:14 am

    aku kurang setuju dengan anda….aq setuju pembangunan PLTN di indonesia!!kenapa PLTN menjadi mhal??karena faktor safety yang sangat high level dibanding dengan pembangkit2 listrik lainnya….PLTN bukan saja cuma digunakan untuk pembangkit listrik saja…tetapi bisa juga digunakan untuk produksi H2,, desalinasi air laut,,bahkan termal yang dihasilkan oleh PLTN bisa digunakan untuk gasifikasi batubara…..mengenai limbah nuklir sejak ada kerjasama dengan IAEA limbah yang dihasilkan dari PLTN tersebut akan dikembalikan/diambil lagi oleh pemasok bahan bakar dalam hal ini AS..so mengapa kita bingung n mengkhawatirkan limbah???kapan Indonesia mau maju!!!!!!!sedangkan 2015 tetangga kita Malaysia juga akan membangun PLTN bahkan Vietnam yang dulunya jauh dibawah Indonesia juga akan membangun PLTN malu dunk kita sebagai Indonesia yang orangnya pinter2….gbisa memiliki teknologi yang luar biasa ini!!!go nuklir for green earth…….

  8. blacklist
    December 9, 2008 at 1:30 am

    satu lagi…kecelakaan chernobyl itu …merupakan kecelakaan yang disebabkan karena reaktor daya mau diubah ke raktor riset…itu tidak mungkin!!!!dan akhirnya terjadi kecelkaan tersebut…dari peristiwa tersebut lahirlah sistem keselamatan yang sedemikian rupa dan dengan level yang high….menjadikan PLTN merupakan primadona bagi energi masa depan karena efisien…ramah lingkungan dibuktikan dnegan disekitar reaktor dapan dghinakan untuk taman rekreasi…i luv high teknologi

  9. December 9, 2008 at 2:04 am

    terima kasih atas pandangan-pandangannya
    yang jelas saya ingin menanyakan kepada anda-anda sekalian,
    kenapa negara-negara besar seperti Jerman meninggalkan dan mematikan reaktor nuklir dan mulai beralih ke teknologi Angin dan Solar ???

    bila anda sudah menemukan alasannya maka anda akan tahu kenapa kami menolak teknologi Nuklir di Indonesia

  10. shialung
    February 26, 2009 at 7:54 am

    Hidup itu ada resikonya……………klo nuklir ada resiko kena radiasi….klo pakai teknologi angin dan solar terkena resiko tidak mampu beli heheheheh

  11. shialung
    February 26, 2009 at 7:54 am

    klo takut resiko mendingan nggak usah hidup….getoo aja kok repot

  12. March 3, 2009 at 5:32 am

    saya tidak setuju dengan pendapat saudara.
    PLTN HARUS dibangun
    Mengapa??
    sebab, indonesia bahkan dunia akan mengalami krisis energi kalau tidak ada PLTN. Anda pasti tahu bahwa bahan bakar fosil sudah mau habis. selain itu sebenarnya bahan bakar fosil juga mengandung zat radioaktif. otomatis bahan bakar fosil juga mengandung radiasi
    PLTN tidak seberbahaya yang anda bayangkan. bahaya atau tidak tergantung dari personalitynya.
    kalau PLTN itu berbahaya kenapa negara- negara seperti jepang, korea, usa, prancis, bahkan afrika selatan saja mempunyai PLTN.
    Masa Indonesia kagak Punya? pa bangsa ini nggak mau maju? apa ingin terus disebut negara berkembang?. Kalau saya sih ingin bangsa ini maju.

    hanya orang yang tak berotak yang menentang PLTN. Jangan mau dibodohin bangsa lain.

  13. March 3, 2009 at 7:54 am

    mas, mas, saya ada satu pertanyaan sebelum kalian semua menyetujui PLTN di Indonesia, tahu kah anda bahwa saat ini pemerintah Jerman sudah mematikan reaktor nuklirnya dan mengganti dengan pembangkit listrik alami?

  14. Igo
    November 8, 2009 at 1:36 pm

    berdasarkan pandangan saya, negara jerman tidak sebesar negara kita, sehingga untuk memenuhi kebutuhan listriknya bisa digunakan sumber daya alami….coba bandingkan dengan pulau jawa saja yang penduduknya padat.
    1.berapa pembangkit listrik bertenaga angin atau ombak yang mesti dibangun untuk memenuhi kebutuhan listrik pulau jawa?
    2.kalau sudah ketemu jumlahnya, mau ditempatkan dimana saja pembangkit itu?
    3.apakah tidak membutuhkan jalur distribusi yang panjang?
    4.lalu berapa ongkosnya?
    5.kapan hal itu dapat terealisasi secara penuh?
    6.bagaimana cara pemeliharaannya?
    7.itu baru pulau jawa, bagaimana dengan sumatra, kalimantan, papua dan pulau yang lainnya lagi?
    8.bandingkan dengan 1 PLTN yang dapat memenuhi kebutuhan listrik pulau jawa-bali.

  1. December 7, 2008 at 9:02 am

Please kindly Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: